![]() |
| Cheese In The Trap Drama (Sumber www.dramafever.com) |
![]() |
| Cheese In The Trap Webtoon (Sumber Soompi.com) |
Anyway, yang mau saya bahas disini bukan tentang ceritanya, tapi lebih ke asal drama ini yang diangkat dari Webtoon. Versi Webtoonnya sudah terkenal dan punya banyak fans makanya ketika diangkat jadi drama awalnya banyak yang khawatir dramanya tidak bisa memvisualkan webtoonnya dengan baik. Tetapi Didukung dengan produser dan sutradara yang handal serta aktor dan aktris yang piawai menerjemahkan tokoh di webtoon menjadi riil, drama ini akhirnya mendulang kesuksesan. Sejak diputar awal Januari 2016 lalu sampai dengan sekarang ratingnya melonjak naik terus dari 3.6 % sampai 7.6% (sumber AGB Daily Ratings). Padahal drama ini masih on going. Masih tersisa sekitar 6 Episode lagi ketika blog ini ditulis.
Yang menarik, versi webtoonnya sendiri belum selesai. Sang Produser mengatakan bahwa ia membuat ending yang berbeda dengan versi Webtoon, sehingga drama ini menjadi hasil karya dari si sutradara dan produser, sementara webtoon masih memiliki orisinalitas penulisnya. Keduanya tidak bercampur meski berangkat dari satu karya. Kerjasama antara penulis Webtoon dan Sutradara serta Produser Drama inilah yang menarik. Keduanya bisa bersimbiosis menghasilkan karya yang menghasilkan warna mereka sendiri, dengan media mereka masing-masing, masih menyisakan ruang untuk kreatif dan sukses lagi..Baik pembaca dan penonton tidak merasa dirugikan.
Lalu saya ingat materi tentang Alih Wahana dari dosen sekaligus sastrawan favorit saya di Fakultas Ilmu Budaya UI dulu, Bapak Sapardi Djoko Damono. Beliau menjabarkan bahwa karena perbedaan khalayak maka hasil akhir dari suatu karya alih-wahana pasti berbeda. Novel yang dijadikan film pasti akan mengundang keluhan seperti `kok ga sama dengan versi bukunya`, padahal memang hasil akhirnya harus beda. Buku untuk dibaca per person (pribadi) sementara film untuk ditonton (kolektif). Dan suatu karya adaptasi bisa berkemungkinan longgar jika menjauh dari karya aslinya atau bahkan bisa menjadi suatu hasil karya yang sama sekali baru karena ketika sudah ditangan seniman penciptanya maka karya tersebut menjadi miliknya. Cheese In The Trap mungkin berangkat dari semi visual ke visual, webtoon ke drama. Yang satu bermain di kata, balon, panel sementara yang satu di sisi sinematik. Keduanya menghasilkan sensasi beda memang tapi tetap berjalan beriringan meski yang satu sudah mendekati finish dan yang satu masih berjalan.
Dan ruang kosong yang tercipta dari selisih ending di Webtoon dan drama bisa jadi media kreativitas baru, misalnya versi film atau drama season 2. Saya yakin ketika dilempar ke pasar keduanya masih akan menghasilkan euforia yang sama. Disinilah industri kreatif itu memberikan ruang dan peluang untuk berkreasi selebar-lebarnya..
Bicara tentang dunia industri kreatif saya teringat pada polemik yang baru-baru ramai. Karya dari rekan saya, bapak Yusri fajar berupa buku kumpulan cerpen `Surat dari Praha` diangkat(tanpa izin) menjadi film dengan judul yang sama oleh produser Glen Fredly dan Sutradara Angga Dwi S. Masalah plagiasi ini sudah diupayakan oleh Pak Yusri lewat jalur hukum, sayangnya dari pihak Film justru menuntut balik pak Yusri karena merasa tidak memplagiat. Saya sendiri walau belum menonton tapi dengan begitu banyak kesamaan mulai dari judul, cover, tema cerita, media surat dsbnya cenderung untuk akhirnya `suudzon` ke pihak Film. Karena apakah yang di Praha itu isinya orang eksil 65 semua, terus apa mereka berkomunikasi lewat surat semua? kan engga...kecuali itu memang sebuah karya adaptasi. Nah disinilah saya ingin membandingkan Cheese in The Trap dengan Surat dari Praha.
Cheese in The Trap sudah jelas-jelas menghargai hasil karya penulis asli webtoon-nya, bisa menerjemahkan karya itu dengan baik dalam bentuk media visual, bisa memuaskan kedua belah pihak penggemar, dan tetap memberi ruang untuk masing-masing kreator berkreasi.
Sementara Surat dari Praha, Pihak Film yang tidak mengakui hak intelektualitas dan kreativitas penulis cerita justru mengadopsi secara ketat karya tersebut. Sungguh ironis. Disini belum sampai tahap bagaimana penerjemahan karya tersebut secara visual. Para pemain Cheese In The Trap membaca dulu webtoonnya sebelum syuting untuk mendalami karakter, tapi apakah pemain Surat dari Praha membaca novelnya sebelum difilmkan? Lha wong tidak diakui kalau ide itu diambil dari sana..
| Cover Kumpulan cerpen Surat dari Praha (sumber Facebook Yusri fajar) |
![]() |
| Cover Film Surat dari Praha (Sumber www.jakartakita.com) |
Dari sinilah, lagi-lagi industri kreatif negeri kita ini perlu direformasi. Sudah beberapakali terjadi kasus plagiasi SInetron dari drama luar tanpa mencantumkan sumber, juga pada lagu..para pelaku industri kreatif seolah tutup mata selama keuntungan terus mengalir. Jika media sehari-hari yang kita lihat saja mengajarkan kecurangan lalu bagaiana nasib mental para penontonnya ...Saya percaya masih jauh banyak orang kreatif di negeri ini, sayangnya pemilik modal mungkin belum berpihak pada mereka. Tapi angin pembaharuan lagi bertiup, semoga saja..angin ini akan menerbangkan dan mengangkat para seniman kreatif di negeri ini agar terlihat dan bisa berkarya sesuai orisinalitas mereka


